Latest News

Free West Papua

Free West Papua
Tuesday, July 19, 2016

Suara Untuk Perempuan Papua

Menulis untuk memperkenalkan tanah Papua
Save Perempuan Papua

Terlampau lama aku hidup sebatang kara. Bukan piatu tetapi yatim. Kata ibu, aku begini adanya. Ia tidak pernah memberitahu siapa ayahku dan  mengapa aku yatim. Mungkin belum saatnya atau memang aku ditakdirkan untuk tidak mengetahuinya. Entalah. Sejak dahulu jawabannya telah  melegenda dalam hati ibu.

Ah, perasaan tabu itu kembali menghampiriku. Malam ini, aku ingin bertanya siapa ayahku. Padahal puluhan kali ibu manangis dan memarahiku ketika aku bertanya siapa ayahku. Aku terbaring sunyi di kamar berdekor setengah layak. Rasa ini tak ada yang tahu, selain pelapon kosong  yang tampak pucat dan hembusan nafas yang berdesa keluar mengisi ruang hampa ini.

Aku masih terbaring. Sangat mustahil bagiku untuk bertanya yang kesekian kali pada Ibu. Ahh mungkin akan ada waktu untuk aku menanyakannya.  Aku pun terpaksa harus membiarkan pertanyaan ini melegenda dalam hatiku.

Aku tidak mengetahui ayahku, bukan karena aku tidak mengetahui masa lalu Ibuku. Lebih tepatnya  aku hanya  tidak mengetahui mana yang menjadi ayahku. Jawaban dari  pertanyaan Inilah yang menjadi misteri hingga saat ini. Ibu dikenal dunia karena keelokannya, meski banyak yang beranggapan Ia hanyalah janda dari bekas tiga suaminya.

Perempuan paru baya yang dipilih Sang Khalik untuk  menjadi malaikatku dibumi itu  banyak  bercerita tentang masa lalunya. Dari tentang kehidupan rumah tangga dengan ketiga suaminya sampai dengan bagaimana menyikapi kehidupan. Hanya saja, kalau tentang  siapa  ayahku masih menjadi hal tabuh untuk di bicarakan. Enta apa yang  menghalangi  jawaban itu untuk keluar dari benak ibu . Aku pun tak mengetahuinya

Aku masih terbaring seperti semula. Posisi tidur, kaki hingga tanganku tidak berpindah seinci pun. Hanya tatapan mataku yang berpindah perlahan menjelajahi  langit-langit rumah yang tampak pucat. Aku mulai terbawa dalam perasaanku sendiri. Kali ini aku teringat apa kata ibu di senja itu, “semua perempuan Papua adalah Ibumu”. Sepenggal kalimat itu terucap dari bibirnya, meski saat itu aku belum sepenuhnya mengerti. Aku hanya mengangguk meyakinkan ibuku bahwa aku mengerti.

Bagaimana bisa ku pahami, seorang ibu berkata,” semua perempuan Papua adalah ibumu”. Masa seorang ibu yang melahirkanku dapat  berkata seperti itu. Jadi  benar,  aku terlahir  melalui lebih dari satu rahim perempuan Papua. Jika benar bagaimana mungkin itu terjadi. Aneh.

Ah, sudahlah  tidak ada gunanya memikirkan itu. Semua hanya omong kosong. Pikirku seraya menutup bola mataku dengan perlahan. 

                                                                    ***                                           
Hari ini aku terbangun kesiangan, rumahku sepih. Aku lekas keluar menuju ruang tamu rumahku yang nampak senyap. Aku duduk termenung di atas sofa yang bilik kanannya telah  menjadi sarang serang. Sepi, karena semua pergi  bekerja. Ibuku berprofesi sebagai  model, belakangan Ia menjalin hubungan dengan Budi. Seorang manipulator kelas dunia. Ia dikenal dan ditakuti dunia karena banyak membajak hasil karya orang lain. Itulah sebabnya, mereka menyebutnya manipulator kelas dunia.

Meski belum sepenuhnya mengetahui mengapa ibuku tertarik  pada lelaki itu. Aku sendiri agak linglung melihat tingkah ibu yang begitu tertarik pada lelaki pembajak yang tidak pernah menghargai karya orang lain. Selain itu, aku linglung karena mendengar gosip yang telah lama menjadi buah bibir para musafir kebebasan. Mereka menganggap ibuku di rebut lelaki pembajak itu karena kecantikan dan kemewahannya. Bukan melainkan karena cinta sehidup semati. 

Selain itu ada juga yang bergosip. Ibuku direbut pria pembajak itu dari suami keduanya yang bernama Belan. Konon kata mereka, pria yang akrab disapa Bel ini, sangat disegani dunia. 

Disegani karena kebaikan, juga keburukannya. Kebanyakan dari mereka selalu melihatnya dari sisi burukan pria itu. Padahal jika kita berangkat dari  filosofi hidup orang Tionghoa Hin dan Yan, maka kita pun salah karena melihatnya hanya dari satu sisi.

Bagiku apapun alasan dan masa lalunya, Ibuku bukanlah wanita pemuas nafsu para lelaki. Ia adalah wanita pemberi kehidupan dan aku tahu  jauh di lubuk hatinya. Ia pun rindu akan kebebasan yang mutlak dari tunangannya itu.

Selain kedua pria di atas, ada juga pria yang sempat singga di hatinya. Kata ibu, namanya  Porto. Pria ketiga ini agak samar dalam ingatan ibu. Saking lupanya saat bercerita  Ia kadang  berhenti sejenak untuk mengingatnya.

Yah.. ibuku memang termasuk orang yang menawan. Ia suka bercerita  tentang masa lalunya. Sesekali bola matanya nampak berkaca saat ia bercerita. Sesekali pula, air matanya berlinang terurai dipipinya yang nampak keriput. Masa lalunya begitu suram.

 Ketika aku  melihat orang  yang kucintai itu menagis. Serasa jantungku tidak bertugas. Aku berusaha menyimak tiap alur cerita masa lalu, yang keluar dari bibir wakil Tuhan itu. Semuanya nampak tak berending. Entalah, apa yang membuat masa lalu ibuku begitu suram dan sesak untuk disimak. Hingga kini tak berjawab.

 Ahh sudahlah ngapain aku memikirkannya. Lagian ibuku telah melewati sekian waktu dan berada di hari ini. Seraya bangkit berdiri dan mengakiri anganku yang membawaku melayang. Aku  melangkah dengan perlahan menyentuh sebuah foto wanita hitam manis yang terpampang di bilik kanan dinding rumahku. Foto itu nampak kusam. Debu yang berbaur di foto itu  membuat kemeja yang dikenakan wanita di foto itu tampak kumal. 

                                                             ***                        
Belum lama ini aku mencintai seorang wanita hitam manis yang seasal dengan ibuku. Bukan hanya dia yang manis  tetapi semua wanita dari kampung halaman ibuku. Aku mencintainya sesuai  dengan yang ku bisa. Apa adanya bukan ada apanya, meski kadang bersebrangan paham. 

Dalam percintaan,  meski  terkadang air mata  menjadi harga yang harus di bayar. Aku  berusaha untuk   mengalah. Mengalah bukan berati kalah. Kadang ada saatnya kita harus mengalah untuk menang jika itu satu-satunya jalan terbaik. Selain itu, ucapan “semua perempuan Papua adalah ibumu” dari ibuku, membuat aku harus terperangkap dalam pilihan. Ibu atau pacar.

Bagiku ini waktunya untuk menerapkan ucapan itu. Bahkan tanpa kusadari ucapan itu telah berakar dan meracuni pola pikirku yang akhirnya membuat aku memandangnya dari dua sisi. Ibu dan pacar. 

Sebagai manusia terkadang kekasiku membuat aku kesal dan marah dengan tingkahnya, tetapi sepenggal kalimat dari ibuku itu membuat aku memandang kekasihku sebagai ibuku. . Bagiku seberapa besar aku menghargai ibuku, itu pula yang akan kulakukan terhadap kekasihku dalam hidup yang amat singkat ini.

Sebut saja namanya Rita. Dia hanya satu dari sekian banyak wanita di tempat asal ibuku. Kata ibu wanita-wanita itu kadang di jadikan pemuas hawa nafsu oleh para lelaki. Banyak dari mereka diperlakukan setengah binatang dan banyak pula yang dihamili lalu di tinggal pergi.  Anak-anak mereka tumbuh tanpa tahu ayah mereka. Jangankan mengetahui paras seorang ayah, mengenal makna dari fonem “ayah” saja tidak. Rasanya sangat konyol, tapi itu yang ibu menceritakannya padaku.

Aku sebagai anak yang terlahir tanpa tahu siapa ayahku, kadang turut merasakan  apa yang anak- anak tanpa ayah itu rasakan. Aku membenci para lelaki itu, aku  menghina dan memaki mereka semampuku, namun aku hanyalah bocah yang belum juga tahu tujuan hidup dari dunia yang serba singkat ini. Ya, Itulah kenyataannya, mereka akan terus berkuasa atas para wanita dan selanjutnya melahirkan  generasi tanpa ayah.

Aku  berseru agar Sang Khalik murka dan musnahkan para lelaki itu, tetapi mereka membalas ucapanku “Tuhan itu hanya ada di dongeng orang primitif”. Aku sadar mereka benar, Tuhan itu dongeng tempat persembunyian dari kesalahan orang primitif yang tak mengenal-Nya sepenuh hati.
“Leo,  Ko melamun  apa di situ?” Mengagetkanku.
“Ey…Obet,  Ko dari mana?”. Tanyaku seraya berjalan menghampirinya .
“Sa dari kampus!”. Membalas ucapanku.
“Ohh.......
 Ko sudah baca berita ka, tidak?”. Bertanya lagi.
“Belum kawan, berita apa ka?” Penasaran.
Kawan, majalah  ini di halaman pertama memuat tentang kekerasan terhadap perempuan Papua. Beritanya menarik untuk di baca. Seraya menyodorkan sebuah majalah. 

“Oh, iyoo kha?, Oke sa baca dulu eee!”

Kedatangan Obet membuat semua amarahku terhadap para lelaki itu sirna sekedip mata. Kini sekang aku dihadapkan pada sebuah majalah yang dibawanya. Entah apa isinya aku mulai  membuka majalah itu dan membacanya dengan saksama.

                               Suara Untuk Perempuan Papua

Sajak tahun 1963 kasus kekerasan terhadap perempuan Papua terus meningkat. Kekerasan berupa, kesetaraan gender, poligami, dan sebagainya. Hal ini serupa dengan  topik yang  dimuat beberapa tahun lalu disalah satu majalah ternama di negeri ini “Papua tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap perempuan”. Dalam edisi itu  Dr. Margaretha Hanita melaporkan kekerasan terhadap perempuan Papua mencapai 1.360 kasus untuk setiap 10.000 perempuan.
Dari kutipan itu dapat kita simpulkan bahwa kekerasan tersebut bukan hanya di lakukan oleh laki-laki non Papua.  Anehnya kekerasan tersebut mayoritas dilakukan oleh laki-laki Papua sendiri. 

Baru membaca beberapa  paragraf dari majalah tersebut, membuat aku mengerti tentang cerita  ibuku. Ternyata benar kata ibuku, para perempuan  di tempat asalnya sulit untuk bersaing dengan laki-laki. Ibarat tuan dan hamba. 

Huh, berita keparat, baru saja aku merenung tentang hal itu, mengapa topik serupa itu datang membangkitkan amarah yang telah hengkang dari benakku. Kampret ni majalah! Tau isi hatiku. Teriakku, seraya melempar majalah itu ke tong sampah.

Obet hanya terdiam dalam sepi. Menatap aku yang bertingka konyol. Ia berjalan menghampiriku  dengan wajah sedikit bermuram.

“Sob, siapkan pesanmu untuk  para lelaki itu. Dua hari lagi, aku akan berkunjung kesana”. Mencoba menenangkanku.

“ Huh” . Kali ini aku yang terdiam.

Hanya sepenggal kalimat itu yang terucap dibibirnya. Ia  berpaling dan terus berjalan keluar pintu rumahku. Menjauh  dan menghilang dari pandanganku.
Aku berjalan dan  kembali ketempat semula. Ku tatap dengan saksama isi ruang tamu rumahku, tak banyak yang berubah. Hanya saja kudapati sebuah kunci yang mengkilap  dengan sebua gantungan pita ungu bertuliskan,aku bukan pelacur. Aku tahu kunci itu adalah kunci lemari tempat menyimpan dokumen rahasia dari ibuku. Jarang Ia lupa. Ketika  tidur pun kunci itu selalu  terkalung di tangan kanannya. Entah apa yang membuatnya pagi ini, Ia meninggalkan kunci itu di atas meja. 

Aku menghampiri kunci itu dan menyodorkan tangan kananku seraya sesekali  menatap pintu rumahku. Yah.. aku hanya takut tingkaku di pergoki ibu. Ku ambil kunci itu dengan lekas kubuka lemari penuh misteri itu. Dalam remari itu aku melihat berbagai  map berjejer di tiap raknya. Pada kolom kedua dari rak paling atas kudapat sebuah buku kecil  bersampulkan Pulau emas. Sampul buku itu telah kusam, bertanda hampir tak pernah disentuh orang. Ku buka lagi  buku itu dengan lekas, di halaman pertama bertuliskan” Aku dihamili Budi pada tahun 1969  tepat pada usiaku yang ke sembilan tahun. Saat ini aku berusaha kembali  menjalin hubungan ini hanya karena aku tak ingin disebut hamil diluar nikah. Aku tak mau anakku Leo di pandang anak haram. Anakku! Ini  salah ibu. Maafkan Ibu.

 Catatan itu membuat aku  terdiam tanpa kata. Sekarang telah ku ketahui  semua misteri itu. Tak banyak bisa ku lakukan selain  terdiam dalam kesenyapan menerima kenyataan itu.

                                                                   ***
                       
Dua hari telah berlalu. Catatan kecil itu membuat aku terus  mengurung diri di kamarku. Aku tahu Obet akan datang hari ini untuk meminta pesanku kepada para lelaki itu.

 Aku merangkak perlahan sembari menyodorkan tanganku pada secarik kertas  yang terletak di atas meja belajarku. Ku ambil  pena dan merangkai kata di atas kerta itu.

“Aku hanya ingin berpesan pada kalian. Sepenggal kata yang sering di utarakan ibuku. "Perempuan Papua bukan hanya pacar, istri,  atau pemuas hawa nafsumu, tetapi Ibumu sendiri". Apakah berani anda bersaksi ibuku adalah pemuas  hawa nafsuku.  Jika tidak sayangi dia dan pandanglah dia sebagai Ibumu. Apapun yang engkau lakukan terhadapnya, mencerminkan bagaimana engkau menghargai ibu yang membuatmu ada di dunia ini.

Tak banyak yang kutuliskan  di surat itu. Ku lipat surat itu dan kembali  kuletakkan di atas meja. 
Beberapa menit berlalu pintu kamarku di ketok.
“Leo..Leo! Ko buka pintu ka?”Memintaku.
Dengan lekas ku buka pintu itu.
Tampak Obet di depan pintu itu dengan style orang yang hendak bepergian jauh.
Obet..! aku menyapa.
Tanpa basa basi Obet berkata” Mana surat itu? “. Memotong ucapanku.
 Aku harus terburu-buru. Lanjutnya lagi.
Ku serahkan surat yang terletak di atas meja belajarku itu.
Tanpa basa-basi, Obet mengambil surat itu dan berkata
Aku harus lekas pergi. Takut ketinggalan kapal. Seraya menutup pintu kamarku.
Aku tak membalas apapun dan kembali terbaring.

(Momino)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Suara Untuk Perempuan Papua Rating: 5 Reviewed By: Unknown