Latest News

Free West Papua

Free West Papua
Friday, July 29, 2016

Surat Dari Gunung

Wiji Thukul



Penulis : Iwan Konedra
Untukmu Sahabatku
Bagaimana kabarmu kawan? Semoga baik-baik saja. Tak seperti kami yang di sini. Berjalan dalam kepanikan, dan bersembunyi dalam ketakutan. Desas-desus kemerdekaan yang dicetuskan oleh sekelompok orang membuat kami terkapar dalam konflik yang berkepanjangan. Dan tak bisa dipungkiri kawan, kami yang awalnya tak tahu apa-apa harus berani angkat senjata untuk membela diri. Bukannya kami anti republik, tapi kami tak punya pilihan. Kami tidak mau melawan Negara atau bahkan mengoyak kedaulatan sang merah-putih seperti yang mereka tuduhkan kepada kami. Tapi kami justru melawan hati nurani kami yang tak pernah menginginkan hal ini terjadi.
Sungguh kawan, kami hanya butuh keadilan seperti yang Garuda janjikan kepada kami. Tapi apa yang kami dapatkan? Ribuan laskar yang mereka kirimkan untuk mengamankan wilayah kami justru malah mengimintidasi kami. Mereka seenaknya menghakimi kami. Padahal apa salah kami? Bukankah tanah kelahiran itu adalah sebuah surga kedamaian bagi kita semua. Tapi di mana surga itu kawan? Kami malah merasakan neraka di tanah kelahiran sendiri. Mereka yang seharusnya melindungi kami justru menghujani kami ratusan timah yang bertajuk peluru. Salahkah kami jika kemudian kami angkat senjata?
Maaf kawan jika dalam coretan ini aku harus menggunakan kata “kami.” Karena ini bukan semata-mata antara aku dan kamu. Tapi ini dari kami yang terpaksa harus berdiri tegak di bawah kibaran Bintang kejora. Dan harus kau tahu kawan, ini semua tak pernah kami inginkan. Tapi mereka yang memaksa kami untuk tetap bernaung di sini. Setiap pembunuhan yang terjadi di tempat lain selalu dikaitkan dengan keberadaan kami. Dan itu semua membuat kami harus berjalan dalam kepanikan kemudian bersembunyi dalam ketakutan. Apakah menurut mereka bahwa lonsongan peluru yang mereka tumpahkan di tanah kami akan membuat kami merasa nyaman? Tidak kawan. Justru itu semakin membuat kami membenci segalanya. Maka apa salahnya jika kemudian kami angkat senjata?
Tak perlu kau takut kawan untuk mengunjungi kami di sini, karena kami tak ingin ditakuti. Justru sebenarnya kami yang takut. Takut jika tak ada lagi orang yang berani melihat kami berjuang di sini. Kami takut jika sampai di penghujung masa nanti, semua orang akan mencap kami sebagai pengkhianat Negara. Dan yang paling kami takuti adalah ketika sejarah kelak akan menceritakan ke generasi-generasi kami tentang pemberontakan yang tak pernah kami inginkan.
Cukuplah kau tahu kawan, bahwa di setiap langkah yang kami lakukan adalah upaya untuk mempertahankan apa yang menjadi hak kami. Kami bukan pemberontak, tapi kami tak ingin diinjak-injak. Maka jangan salahkan kami jikalau kami terpaksa angkat senjata. Sekali lagi kami minta maaf kawan, kami tak bermaksud mencoreng sejarah kelam dalam kibaran Merah-Putih. Tapi kami hanya mempertanyakan keberadaan Pancasila dalam Bhinneka yang telah ambruk.
“Ketuhanan Yang Maha Esa.” Itu sila pertama. Tapi apakah mereka yang mengirimkan serdadu untuk membantai kami masih layak disebut ber-Tuhan? Apakah mereka yang mengimintidasi kami dan dengan seenaknya menuduh kami pemberontak tanpa mempedulikan alasan kami, masih bisa disebut beriman? Jelaskan pada kami kawan. karena kalau tidak, mungkin kami tambah tersesat.
“Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Ini yang membuat kami tertawa dalam tangis dan menangis dalam senyum. Dimana rasa kemanusiaan itu berada, saat anak-anak kami yang tak tahu apa-apa harus tergeletak dengan sebuah lubang peluru yang bersarang di dadanya? Apakah mereka yang menginterogasi kami dengan kaki dan tangan yang tak pernah diam menghantam kami masih pantas disebut beradab? Kami memang bodoh, karena memang kami jarang yang disekolahkan. Tapi kami masih punya hati yang bisa merasakan perih. Jadi jangan salahkan kami jika kami angkat senjata.
Dan apalagi yang harus dibanggakan dalam “Persatuan Indonesia.” Kita telah tercerai-berai karena keegoisan. Masih mampukah kita untuk bersatu sementara dendam di hati kian lama kian menyiksa? Seandainya saja Tuhan bisa mengabulkan permintaan kami, maka kami hanya meminta satu hal. Kami hanya ingin keadilan, kami tak ingin dianak tirikan. Kekayaan alam kami dikuras habis oleh mereka dan kemudian kami diterlantarkan. Maka wajarlah kalau kemudian kami angkat senjata.
“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.” Sila inilah yang membuat kami bingung. Kami tak pernah tahu kebijaksanaan apa yang telah diberikan penguasa Negara kepada kami. Apakah dengan membiarkan hidup kami terisolasi di sini bisa disebut bijaksana? Dan apa pula itu perwakilan? Kami tak pernah tahu apa rencana para wakil rakyat yang mewakili suara kami. Yang kami tahu, ketika ada pemilihan untuk wakil rakyat maka akan mengalir dana yang bisa membuat kami merasa hidup untuk sesaat. Dan setelah itu, semua akan seperti hari-hari sebelumnya. Penderitaan, itulah yang kami rasa. Maka, jangan salahkan kami jikalau kami bingung dan kemudian tersesat.
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Inilah yang kami impikan saat ini. Dari detik yang terlewati, menit yang terlampaui, dan jam yang silih berganti. Kami menaruh sebuah harapan bahwa hari yang cerah pasti akan datang. Bulan yang tak akan pernah buram menatap kami lagi, hingga tak ada lagi tahun-tahun yang kelam mengiringi kami. Itulah impian kami kawan. Impian yang akan selalu kami wariskan ke anak cucu kami kelak.
Tak usah mereka tahu perjuangan kami, dan tak perlu mereka tahu penderitaan kami, karena kami tak ingin menanamkan dendam kepada mereka. Kami hanya ingin melihat generasi kami tersenyum ceria menatap dunia. Sekali lagi kami minta maaf kawan, kami tak ingin mengutuk Pancasila. Kami tak ingin mengoyak Sang merah putih. Kami tak ingin mengkhianati kedaulatan Negara ini. Tapi mereka yang memaksa kami untuk melakukan semua ini. Jadi jangan salahkan kami jikalau kemudian kami angkat senjata.
KAMI
Aku menutup lembaran-lembaran kertas yang bertinta merah itu. Ku tarik napas dalam-dalam , lalu kemudian ku hembuskan ke langit. Anganku melayang, menembus deretan waktu yang telah lama terlewati. Ada kenangan di sana. Kenangan tentang persahabatan dua orang mahkluk adam yang menantang nasib. Perbedaan bukan jadi masalah bagi mereka. Meski mereka dilahirkan dari suku yang berbeda, tapi mereka tetap dalam kebersamaan. Hingga di kemudian hari, saat mereka berdua beranjak dewasa, kemudian mereka bertekad untuk masuk dalam ujian militer.
Mereka berdua lulus bersamaan, tapi perjalanan tugas dengan lokasi yang berbeda membuat mereka berdua terpisah. Hingga sebuah gencatan senjata mempertemukan mereka kembali, tapi dalam kubu yang berbeda. Bukan hanya berbeda tapi bertentangan. Dalam deruan peluru dan pekikan geranat, mereka saling menatap, cukup lama. Tetesan-tetesan air mata yang bercampur peluh dari sudut mata keduanya cukup mengabarkan pada alam, bahwa mereka tak ingin semua ini terjadi.
po
Aku kemudian berdiri dari tempat dudukku. Ku tatap deretan-deretan kebanggaan yang bertengger di bahuku, Dan kemudian ku lirik baret merah yang bergantung di pojok kamarku. Dalam hati yang kelam, ku besitkan satu ungkapan bernada doa, “Maaf kawan, aku dalam menjalankan tugas. Tapi aku yakin, badai pasti akan berlalu. Semoga kita bisa bertemu kembali, dalam dekapan tangan yang erat.”

Sumber : CERPEN
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Surat Dari Gunung Rating: 5 Reviewed By: Unknown